Hitam Putih Manusia

Selasa, 29 Januari 2013


Selama kita hidup, tidak akan pernah ada untaian peristiwa yang berhenti. Setiap detik waktu berjalan, sebanyak itu pula peristiwa tengah dirangkai. Manusia memang makhluk yang penuh momen, penuh warna, penuh rasa, dan segala emosi yang ada.
Manusia memang bukan malaikat. Malaikat yang suci dan selalu bertasbih memuji Allah. Manusia juga bukan setan atau iblis yang selalu salah. Manusia ternyata memang telah diselipkan dua buah jiwa yang hitam-putih. Itulah sebabnya manusia sering lupa. Kadang ia bisa seindah malaikat, kadang manusia bisa seburuk setan. Sepertinya memang tiada yang lebih buruk yang mewakili keburukan itu sendiri bukan daripada sang setan itu sendiri. Tentu tak ada yang layak mewakili keindahan selain malaikat.
Pernah ada guyonan SMS. Begini tulisannya:

Iblis minta PENSIUN
“Ya, Allah, hamba minta pensiun dini saja,” ucap iblis. Allah menjawab dan bertanya, “kenapa kamu minta pensiun dini padahal kamu yang minta untuk selalu menggoda manusia?”
Jawab Iblis, “hamba minta ampun, ya, Allah. Amit-amit sekarang kelakuan manusia sudah melebihi kami, hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia. Ya, Allah, makanya hamba minta pensiun dini saja.”
Iblis pun melanjutkan. “Bayangkan saja, manusia BERZINA, yang enak dia, eh, yang disalahkan hamba. Manusia KORUPSI, dia yang menikmati, katanya godaan hamba. Manusia SELINGKUH, dia keenakan, katanya dipengaruhi hamba. Manusia ke BAR, di sana bernyanyi dan minum minuman keras, malah berbuat mesum segala, katanya disuruh hamba. Yang paling sedih, nih, setiap musim haji, hamba dilempari batu oleh berjuta-juta manusia di Mekkah, padahal yang melempari batu itu sebahagian kawan hamba juga. Minta ampun!!! Ya, Allah, hamba tak menyesal minta pendiun dini.”
Kisah di atas memang analogi yang menggambarkan betapa terpuruknya kelakuan manusia sekarang. Kebanyakan memang. Sikap atau perilaku seperti ini tentu bukan semata-mata muncul dengan sendirinya. Awal dari sekedar coba-coba, lalu ada kesempatan, lalu jadi kebiasaan. Alhasil, keadaanlah yang sering disalahkan.
Manusia juga banyak yang berhati malaikat. Contohnya banyak. Tinggal lihat Oprah atau Kick Andy, maka Anda akan melihat begitu banyak manusia yang berhati malaikat. Bagaimana dengan tayangan gosip? Pikir saja sendiri, sebagian besar perilaku mereka lebih mewakili yang mana?
Hitam-Putih
Manusia memang diciptakan dari air mani yang hina. Dari susunan tulang belulang yang rapuh, dibalut daging dan dikemas dalam kesing yang beragam. Kemudian Allah memuliakannya daripada makhluk ciptaanNya yang lain dengan diberikannya akal. Akal itu pun dimaksudkan agar bisa membedakan baik atau buruk (harusnya demikian).
Selain itu semua, ternyata ada segumpal daging yang menurut manusia sempurna, Muhammad, darinyalah segala sesuatu berawal. Jika ia baik, maka baiklah manusia, sebaliknya, jika ia buruk, maka buruk pulalah manusia. Anda tentu paham, ialah hati. Jadi, secara fisik, manusia disusun dari jasad yang jelas dilihat kasat mata, sedangkan yang tidak kasat mata atau invisible adalah hati.
Benarkah hati tak terlihat? Oleh mata, ya. Oleh hati yang lain, nanti dulu. Oleh mata yang lain? Memang tidak, namun bisa diamati secara tidak langsung. Dari mana?
Perhatikanlah perilaku manusia sekitar kita. Bukan tampilan luarnya. Lihat dan amati perilakunya. Anda bisa menilai sendiri bagaimana hatinya. Jika Anda berbincang, perhatikan bagaimana sorot matanya, jika Anda terbiasa mengamatinya, tentu mudah menangkap maksudnya.
Hitam-putihnya manusia memang baru teruji (utamanya) kalau ia dihadapkan pada ‘masalah’. Kalau ada hal yang tidak atau belum sesuai dengan harapan manusia, maka bisalah itu dikatakan masalah. Nah, hitam-putih manusia di sini yang kelihatan. Manusia yang mengeluarkan The White, tentu tak terlalu menganggap masalah, beda dengan The Black.
Hebatnya, Tuhan memang Maha Adil. Coba kalau tidak ada pernyataan dariNya bahwa kita diberi cobaan sesuai kapasitas kita, wah, pikir sendiri deh akibatnya pada hidup. Berikut ini sedikit iustrasi wacana tentang masalah dan kehidupan.
Anggap saja kita memiliki segalanya. Kita pun ‘cukup’ bisa menyikapi segala hal. Namun Tuhan ‘kan Maha Tahu, Allah Maha Tahu bahwa kita belum diuji untuk sesuatu yang menurutNya, “Hmmm…layak diuji, nih.” Kira-kira begitulah sederhanya. Ketika diuji, dengan tema yang Tuhan beri. Hasilnya… galau…resah…tersudut…diabaikan…bla…bla…bla…
Lantas sempat limbung. Ternyata kalau memang dasarnya hati kita baik (memang fitrahnya baik) didukung dengan KehendakNya serta ‘Suka-Suka-Nya”, maka bagi hati akan mudah diberi petunjuk. Maka muncullah sisi The White. Padahal sebelumnya sempat abu-abu sebelum (jangan sampai) menjadi The Black.
Itulah hitam-putihnya manusia. Bukan malaikat, bukan pula iblis. Manusia sering lupa, bisa baik luar biasa. Namun manusia bisa MEMILIH hitam-putihnya. Maka di sanalah takdir akan menanti. Tuntunan itu tentu lewat keyakinan pada Tuhan, bukan pada siapa-siapa lagi. Memang tidak serta merta hati menjadi ‘Black’, kalau boleh di sini menggambarkan, mungkin hati itu akan sedikit ternoda, ada noktah, atau ada sisi yang meng-abu. Syukurnya, bila belum terlambat, hati itu masih bisa diselamatkan.
Pertarungan hitam-putih itu sejatinya akan berlangsung hingga akhir hayat kita. Tinggal bagaimana permintaan kita, apakah kita minta dimatikan dalam keadaan White? Jika sudah, maka sudahkah kita mengupayakan sesuai ke arah yang kita minta? Misalnya, minta diberikan nafkah yang berkah, sudahkan kita melakukan segala daya dan upaya untuk ke arah yang kita minta? Hmm, Anda yang tahu jawabannya.
Rasul pernah berpesan:
“Tidak mengapa kekayaan bagi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, tetapi kesehatan bagi orang yang bertaqwa lebih lebih baik daripada kekayaan; dan jiwa yang baik termasuk nikmat yang paling besar.” (HR. Bukhari)
Saudaraku, kita memang memiliki kehidupan sendiri, cerita kehidupan ini memang tentang kita, bukan yang lain, bukan orang lain, mereka sekedar cermin buat kita. Kita, manusia bukan berdiri sendiri, bukan daging hidup, bukan robot, namun kita adalah manusia yang memiliki pilihan, makanya kita adalah raja. Memang kita selalu dihadapkan pada masalah. Peran kita hanya kita yang bisa menjalaninya. Masalah memang pasti ada dan kita bisa mengelolanya.
Untuk masalah A-Z, syukur kita bisa mengatasinya, jika yang datang masalah jenis AA-ZZ atau triple-nya, maka pasti seni menghadapinya juga beda dengan daya yang berbeda pula. Makanya kita suka lupa, ternyata untuk satu masalah yang sebenarnya buat orang lain tidak berat, kita sering lupa bahwa sejatinya kita sedang dites, mampukah kita menyikapi (yang kita anggap) masalah yang kita pandang berat? Padahal banyak beban saudara kita yang jauh, jauh lebih berat masalahnya?
Itulah manusia dengan hitam-putihnya, bagaimana manusia masih bisa menampilkan sisi PUTIH dalam SEHITAM* apapun keadaan yang mendera kita. That’s how our story goes!
*dalam pandangan manusia, ‘coz Allah selalu membaikkan kita
Wallahu’alam

0 komentar:

Poskan Komentar